Kita Menjadi Pembawa Damai (Matius 5:9)
Addthis

Mengatakan bahwa sebagai berkat besar, orang di dunia baru ‘akan melihat wajah Tuhan’. Konkritnya masih rahasia tetapi yang penting di sini adalah marilah kita meminta Allah mentahirkan hati kita agar kita dapat memelihara kebersihan hati kita. Membersihkan hati membuat kita pada dua pilihan; Membuat diri kita sendiri pantas atau tidak untuk memandang Tuhan dengan sempurna kelak. Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
 
Kata damai dalam bahasa Ibrani adalah Shalom yang tidak berarti sesuatu kondisi yang tidak ada masalah. Tetapi kata ini selalu mengandung arti sesuatu yang membuat dan membawa kebaikan bagi manusia. Tidak cukup hanya cinta damai, kita harus membawa damai bagi sesama kita. Sering orang cinta damai melakukan tindakan yang salah. Misalnya, kita melihat sesuatu bahaya yang sedang berkembang sedemikian yang mengancam diri kita atau orang lain; dan sebagai usaha kita cinta damai kita malah tidak melakukan apapun.
 
Membawa damai berarti berani menghadapi konflik masa kini untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk di masa depan. Kita harus aktif mau melakukan apapun untuk membawa perdamaian. Seorang pembawa damai akan disebut anak-anak Allah, ini berarti ia melibatkan diri di dalam pekerjaan yang dilakukan Allah. Paling sedikit ada tiga arti shalom yang dapat kita terapkan dalam hidup kekristenan kita:
 
1. Shalom adalah tindakan aktif dari orang percaya untuk membawa damai ke dunia ini. Tindakan-tindakan etis kita seharusnya berkaca kepada prinsip apakah yang aku lakukan saat ini menyumbang sesuatu yang baik pada manusia masa kini dan masa mendatang. Tidak akan pernah ada perdamaian jika tidak ada satu orang yang memulainya.
 
2. Shalom itu harus dimulai dari diri sendiri. Kita membawa damai dalam hati dan jiwa kita. Di dalam diri kita selalu ada pertentangan antara yang baik dan buruk. Itu adalah peperangan spiritual dalam diri kita. Berbahagilah orang yang keluar sebagai pemenang dan membawa damai dalam dirinya sendiri, menyelesaikan peperangan tersebut serta menyerahkan seluruh hatinya kepada Allah.
 
3. Shalom adalah tugas tertinggi manusia, yaitu membangun hubungan yang benar antara manusia dengan manusia. Orang semacam ini sangat diperlukan karena ada orang-orang yang hidupnya selalu menjadi permulaan dan penyebab kerusuhan dan pertengkaran. Kita memerlukan bahkan kita ditantang untuk menjadi orang pembawa damai. Menjembatani konflik-konflik sesama anak Tuhan dan bukan menambah parah. Kalau Anda berusaha membawa damai dalam bentuk yang paling sederhana atau paling kecil sehingga idak tampak oleh manusia, anda telah melakukan pekerjaan Allah. Jangan lupa walaupun tidak ada menusia memperhatikan tetapi Allah memperhatikan. “Berbahagialah mereka yang menciptakan hubungan-hubungan yang benar antara manusia dengan sesamanya, karena mereka mengerjakan pekerjaan Allah.